Tetap waspada agar tidak merana. Banyak sudah contoh memilukan tentang penipuan berkedok MLM di Tanah air ini. Nyaris ratusan milliar ditilep pengelolanya, hingga hanya menambah kisah-kisah memilukan yang terjadi di negeri ini. Tidak kata terlambat untuk belajar…..

Dua surat melayang ke meja redaksi beberapa waktu lalu. Muatan isinya nyaris seragam. Uneg-uneg mereka menyangkut perusahaan Probest internasional. Perusahaan dimana dia menjadi salah satu anggotanya. si pengirim sendiri tak hendak membuka jati dirinya. “saya sengaja fiftif karena malu kalau nanti masyarakat tahu saya pernah menjadi anggota Probest” begitu bunyi akhir tulisan yang diketik rapi ini.

Katanya, sejak awal dia tahu perusahaan itu bersifat money game. Sebabnya, dia sendiri pernah menjadi anggota perusahaan yang serupa sebelumnya (Pro-mail).Karena tertarik akan dapat untung besar dengan mudah dan untuk mengganti kerugian dari bisnis sebelumnya itu. Walaupun,katanya lagi, dirinya sudah balik modal tetapi teman-temanya dan adiknya yang baru diajaknya dua bulan terakhir tidak seberhasil dia.Modal yang ditanamkan terbuang sia sia. Maunya untung malah buntung.”Akhirnya sama saja, kami sekeluarga juga yang rugi” tambahnya memelas. Meski kasus pro-best belum sampai meledak menjadi kehebohan,bahkan belakangan kabarnya bakal jalan terus dengan konsep bisnis baru (support system). Tapi apa yang disampaikan si pengirim surat ini,menambah daftar panjang kisah pilu dan merana tentang masyarakat korban perusahaan money game. Yang kebanyakan memang berkedok perusahaan pemasaran berjenjang (MLM).

Sebelumnya,masih segar dalam ingatan, bagaimana PT.QSAR telah ‘mempercundangi’ ribuan anggotanya, Agrobisnis yang jadi basis QSAR untuk memberi bonus buat para anggota, belakangan diketahui banyak bohongnya ketimbang benarnya. bahkan sebagian besar masyarakat sumatera utara khususnya medan,boleh jadi trauma bila mendengan nama multi level marketing (MLM). Wajar saja, jika kita menengok apa yang terjadi di tahun 1998 ketika PT.Banyumas Mulia Abadi (BMA) yang membawa panji MLM menilep ratusan milliar rupiah.Kasus lain seperti Yayasan kesejahteraan Adil makmur milik Ongko Wijaya, Arisan Danasonic dan Kospin di Pinrang Sulawesi Selatan.

Sebenarnya mudah sekali membedakan perusahaan itu money game atau benar MLM, yaitu dengan mencantumkan keanggotaan APLI (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia) bagi yang benar – benar resmi perusahaan MLM. Sebenarnya bisnis money game tersebut oke-oke saja, tetapi yang jelek perusahaan tersebut menggunakan kata – kata MLM sebagai baju usahanya. Sejauh ini ada sekitar 200 perusahaan MLM yang terdaftar di APLI.

Saat ini perusahaan bersifat money game ( yang pasti bukan anggota APLI ) yang ada di pasaran diantaranya sangat banyak dan juga berkembang di tengah – tengah tumbuhnya bisnis MLM itu sendiri, maka dari itu, waspadalah ! Jangan terjebak ikut masuk.
Untukmenghindari praktek money game berkedok MLM,APLI sudah jauh lebih koordinatif dengan Depperindag.Lembaga ini kini lebih kritis dan selektif dalam memberikan ijin IUPB (Ijin Usaha Perusahaan Berjenjang).

Maka dari itu,….berhati – hatilah dalam memulai bisnis MLM, pilih perusahaan yang legal, terdaftar di APLI dan memiliki prospek usaha yang bagus untuk anda.

(oleh: Ari A.Rachmat, tabloid Marketing 06/ 25-6 mei 2003 )

Iklan