Pekanbaru – Para petani mandiri kini menjerit akibat anjloknya harga tanda buah segara (TBS) kelapa sawit hingga Rp 400/kg dari harga normal Rp 2.000/kg. Salah satu alternatif membantu keterpurukan tersebut adalah melalui subsidi pupuk.

“Salah satu solosi untuk membantu keterpurukan para petani sawit atau petani karet yang saat ini harganya anjlok, pemerintah harus segara memikirkan untuk mensubsidi semua kebutuhan pupuk. Kalau tidak, para petani kita akan terus terpuruk,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Riau, Wisnu Soeharto dalam perbincangan dengan detikFinance, Rabu (15/10/2008).


“Harga pupuk paling murah untuk Rp 400 ribu per sak dengan berat 30 kg. Perkebunan sawit normalnya harus dipupuk dalam jangka waktu tiga bulan sekali. Dengan harga yang begitu tinggi, sekali memupuk petani harus mengeluarkan dana belasan juta. Itu tidak sebanding dengan penghasilan sawit yang mereka panen,” kata Wisnu.

Wisnu menjelaskan, bila kebun sawit tidak dilakukan pemupukan secara rutin, hal itu juga akan berimbas dengan harga. Selain hasilnya panen semakin sedikit, pabrik kelapa sawit juga akan memberikan harga yang rendah karena buah yang tidak berkwalitas.
—————————————————————————————–
Tiens Golden Harvest bisa berperan penting dalam rangka mengatasi harga pupuk yang begitu mahal pada saat krisis sekarang ini. Karena Golden Harvest dapat mengurangi pemakaian pupuk kimia hingga 50%.

Baca selengkapnya di http://www.tiensgoldenharvest.co.cc