Thursday, 21 January 2010

Jadi PenggemarJAKARTA (SI) – Kasus pembobolan saldo rekening nasabah perbankan melalui anjungan tunai mandiri (ATM) semakin marak.Bank Indonesia (BI) menduga sindikat internasional berada di balik pembobolan tersebut.

DEPUTI Gubernur BI Budi Rochadi mengungkapkan, hingga kemarin BI telah

Kebun Emas

Aman Bobol

menerima laporan pembobolan rekening nasabah pada enam bank yaitu Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Permata, dan Bank Internasional Indonesia (BII).

Nilai kerugian akibat pembobolan itu dipastikan miliaran rupiah lantaran dari satu bank saja ada yang dibobol hingga Rp4,1 miliar dari 236 rekening nasabah. “Modus yang dilakukan sama dengan yang terjadi di luar negeri. Kami menduga ada sindikat jaringan internasional yang melakukan pembobolan tersebut,” ujar Budi Rochadi di Jakarta kemarin. Kasus pembobolan saldo rekening nasabah perbankan melalui ATM kembali terjadi.Kalangan perbankan mulai menerima laporan dari nasabah mengenai kasus ini pada 16 Januari 2010.

Dari hasil penyelidikan awal diketahui, pembobolan rekening nasabah dilakukan setelah pelaku mencuri data kartu ATM melalui proses gesek (skimming) atau merekam (taping) dan pengintipan personal identification number (PIN) nasabah (lihat infografis).Modus seperti ini marak terjadi di Toronto, Kanada, sejak tahun lalu. Di Indonesia kasus ini belakangan

Camera Spy

Wireless Spy

sering terjadi di Bali. Demi mencegah meluasnya pembobolan bank melalui ATM,BI meminta perbankan mengevaluasi dan mendeteksi seluruh mesin ATM dan electronic data capture (EDC). BI juga meminta perbankan segera menerapkan kartu debet berbasis chip.

“Kami mengharapkan masyarakat agar tetap tenang dan bijak serta berhati-hati dalam melakukan transaksi perbankan, khususnya menggunakan kartu ATM. Kami juga mengimbau kepada perbankan untuk menanggung kerugian nasabah,”ujarnya. Hingga kemarin di Bali tercatat sudah 15 nasabah yang melapor ke kepolisian terkait kasus ini, beberapa di antaranya warga negara asing. Mereka melapor ke sejumlah polsek,Poltabes Denpasar,atau ke Polda Bali. “Total kerugian masih kami hitung.Tapi yang pasti mencapai ratusan juta rupiah,” kata Kapoltabes Denpasar Kombes Pol Gede Alit Widana. Dari jumlah korban yang resmi melapor ke polisi, sebagian besar nasabah BCA di wilayah Kuta, Badung.

Di Polsek Kuta hingga petang kemarin sudah ada lima nasabah melapor nilai uang di rekeningnya berkurang dengan jumlah bervariatif,

Kebun Emas

Magnetic Card

mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan seorang nasabah, Lily Suryani,melapor kehilangan uang Rp140 juta. Dalam laporannya, Lily mengaku bahwa kejadian itu baru diketahuinya saat mengecek saldo rekening BCA lewat mobile banking di ponselnya pada Minggu (17/1) pukul 22.30 Wita. “Saya kaget banget melihat saldo di rekening hanya tinggal Rp2.027.000. Padahal saya tidak pernah bertransaksi saat saldo terakhir masih Rp142.027.000,”ujarnya.

Dua nasabah BCA lainnya yang juga melapor ke Polsek Kuta merupakan warga negara Amerika Serikat, yakni Robert Allan Nicksic, dan Richard Lewis Garrison. Nicksic melapor kehilangan Rp25 juta saat mengecek saldonya di ATM BCA di Jalan Dewi Sri,Kuta, sedangkan Garrison melapor uangnya lenyap Rp18,5 juta saat mengecek saldonya di ATM BCA di Jalan Laksmana,Kuta. “Nilai total kerugian lima nasabah yang melapor kepada kami mencapai Rp255,5 juta,”ujar Kapolsek Kuta AKP Dody Prawiranegara. Kasus serupa menimpa nasabah Bank Permata. Seorang nasabah, Wayan Suparta, mengaku saldonya menyusut Rp11,5 juta.

Dia lantas melapor ke Polsek Ubud. Ada juga nasabah orang asing di Bank Permata Teuku Umar, Denpasar, yang menjadi korban dan sudah melapor ke Polsek Denpasar Selatan. Dia adalah Dario Kovacic, 47 tahun, warga Rusia yang tinggal di Sanur, yang kehilangan uang hingga Rp46 juta. Selain 15 korban yang resmi melapor, diduga masih banyak nasabah yang memilih enggan melapor karena sudah dijanjikan akan diselesaikan internal oleh pihak bank.”Kata bank,dua minggu lagi semuanya akan diselesaikan,” ujar salah satu nasabah BCA Kantor Cabang Utama Kuta yang menolak disebutkan namanya. Kapolda Bali Irjen Pol Sutisna menyatakan,pihaknya masih terus menyelidiki berbagai kemungkinan penyebab kejadian itu.

Kemungkinan dimaksud termasuk ulah para hacker yang membobol uang nasabah. Meski ada kasus itu, aktivitas bank di Denpasar dan Kuta kemarin berjalan normal.Tidak ada tanda-tanda penarikan uang dalam jumlah besar oleh nasabah. Polisi bersenjata lengkap terlihat berjaga-jaga di dalam bank, pos keamanan,maupun di depan ATM. “Ini setidaknya bisa berguna mengantisipasi pelaku yang masih nekat beraksi,”ujar Sutisna. Mabes Polri meminta perbankan mengganti dana nasabah yang hilang.

“Ya, kalau uangnya hilang ya harus diganti karena itu kanbentuk dari risiko,”ujar Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Ito Sumardi di Bandara Internasional Soekarno- Hatta,Tangerang,Banten,kemarin. Menurut Ito, pihaknya telah menghubungi Kapolda Bali dan beberapa bank agar melakukan audit sistem keamanan ATM. Dia mengingatkan bahwa kejadian ini bisa saja menimpa nasabah bank di daerah lain. “Kemungkinan ada pihak lain juga yang menjadi korban,akan kita data,”katanya.

Pakar teknologi informasi digital forensik Ruby Z Alamsyah menduga pembobolan dengan modus tersebut dilakukan oleh sindikat yang bekerja secara rapi dan profesional. Pencurian uang nasabah melalui transaksi ATM ini hanya bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan canggih. “Setidaknya, ada tiga empat alat yang digunakan untuk mencuri uang nasabah melalui ATM. Alat itu adalah ATM skimmer, spy camera, magnetic writer, dan alat untuk membuat kartu ATM palsu,” katanya. Dia menuturkan, bukan hal sulit untuk mendapatkan seluruh peralatan itu. Hanya membutuhkan modal sekitar USD1.000– 1.500.

“Apalagi seluruh peralatan itu bisa dibeli melalui internet,” paparnya. Sulit bagi nasabah untuk melakukan langkah antisipasi. Salah satu yang bisa dilakukan nasabah, kata Ruby, adalah dengan mengenal betul alat ATMskimmeritu. Sayangnya nasabah di Indonesia belum paham bagaimana bentuk ATM skimmer sehingga perlu sosialisasi untuk mengenal alat itu. Menurut Ruby,dalam kasus ini, tanggung jawab antisipasi berada di industri perbankan.Kejadian ini menunjukkan bahwa prosedur keamanan bank masih belum optimal.

Intensifkan Pengawasan

Sekretaris Perusahaan BNI Intan Adams Katoppo mengakui ada nasabah BNI yang menjadi korban pembobolan saldo rekening nasabah melalui ATM tersebut. BNI akan mengintensifkan pengawasan dan melakukan sweeping pada ATM-ATM perseroan.”Kami melakukan deteksi dini atas kejadian-kejadian yang tidak diinginkan,”ujar Intan.

Saat ini BNI tengah melakukan identifikasi dan verifikasi laporan berkurangnya saldo beberapa nasabah perbankan akibat transaksi mencurigakan. Jika verifikasi menunjukkan bahwa berkurangnya saldo

Kebun Emas

Wireless Spy

akibat faktor di luar kelalaian nasabah, BNI akan mengganti dana nasabah yang menjadi korban dalam waktu 2 x 24 jam setelah hasil verifikasi. Wakil Direktur Utama Bank Permata Herwidayatmo menjelaskan, pihaknya masih melakukan investigasi atas kasus tersebut. Bank Permata sudah berkoordinasi dengan BI dan kepolisian setempat.

“Kami masih mendalami kasus tersebut,”tegasnya. Bank Permata sudah mengerahkan tim internal, tim legal, teknologi informasi (TI), dan manajemen risiko dari kantor pusat ke kantor cabang Bank Permata di Bali. Bank Permata berupaya menyelesaikan masalah tersebut paling lambat satu minggu ke depan. BCA dalam siaran persnya menyatakan, kasus hilangnya uang nasabah diindikasikan akibat pengintipan PIN oleh pihak yang tidak berhak.

“Diindikasikan telah terjadi pengintipan PIN oleh pihak yang tidak berhak saat nasabah bertransaksi di ATM BCA di Bali beberapa waktu lalu,” demikian termuat dalam siaran pers yang dirilis Subdivisi Hubungan Masyarakat BCA kemarin di Jakarta. BCA juga telah melakukan tindakan pengamanan agar kejadian serupa tidak terulang. (didik purwanto/sucipto/helmi firdaus/miftachul chusna/maesaroh)

Share on Facebook

Iklan