Pagi kemarin sekitar jam 7 saya sudah nongkrong ditempat serapan saya setiap minggu pagi, sambil menunggu serapan saya balas BBM dulu yang jumlahnya sekitar 16 messenger yang sudah ping-pong ping-pong kesaya pada hal masih pagi, karena memang mereka pada sibuk belanja Sabun Amoorea takut kali uangnya hilang…. eh malah ada yang komplain kok belum sampai mister padahal janji 1-2 hari, dia tidak sadar bahwa hari itu adalah hari minggu. 🙂

Eh, ceritanya kemana ini, kok malah merembes kemana-mana…

Setelah giliran saya dapat, akhirnya para pelayan warung itu juga mengantarkan kemeja saya untuk serapan pagi, seperti biasa, tidak akan kenyang kalau tidak makan nasi. Sudah menjadi kebiasaan setiap minggu pagi serapan nasi uduk dan telor dadar ditambah kerupuk, cabe dan bumbu-bumbu lainnya.

Serapan Pagi di Pekanbaru

Sambil menikmati nasi uduknya, saya teringat masa yang lalu sekitar tahun 2000, ketika awalnya diterima bekerja, waktu itu masih tahap magang ya atau training. Nikmatnya Gaji sebesar Rp. 120.000,- pada hal waktu itu uang kost saya sudah Rp. 100.000,- Saya hanya makan siang dengan lontong tanpa sayur cukup denga kerupuk ubi yang dibungkus plastik, waktu itu harganya kalau tidak salah Rp. 500,-/bks.

Sebenarnya uang kost Rp.100.000,- sudah termasuk makan 3xsehari, tetapi saya hanya makan 2 kali saja dirumah kost pagi dan malam karena memang siang tidak bisa pulang karena harus naik angkot 3 kali. Sementara jatah ongkos dan keperluan lainnya sisa Rp. 20.000,- ha.. ha… emang hidup itu penuh dengan kenikmatan kalau dinikmati, uang koin Rp.100,- waktu itu rasanya berharga sekali karena ongkos angkot Rp. 300,- dikali 3 PP artinya saya harus ngeluarin uang Rp. 1.800,-,

Terkadang saya harus jalan kaki agar saya bisa menikmat goreng (bakwan) walau hanya dalam waktu 1 kali dalam 1 bulan. Ini benar-benar sesuai dengan judul buku Habiskan Saja Gajimu.

Perjalanan hidup harus diteruskan, untunglah pada tahun 2001 sekitar bulan November saya mendapat kenaikan gaji menjadi Rp. 450.000,- Terimakasih Tuhan atas nikmat yang engkau berikan, itu kata saya sekarang, karena dulu saya tidak begitu mengenal siapa itu Tuhan.

Hidup dikota metropolis tidak mungkin hanya mengurung diri dirumah kost, butuh pertemanan, butuh kesenangan untuk menikmati hari libur dan lain sebagainya, tetapi itu belum bisa saya nikmati karena keterbatasan. Ada rasa brontak dalam diri gak sih? pastinya ada, tetapi inilah yang membuat saya tidak nyaman, yang pada akhirnya saya harus segera keluar dari kondisi ini.

Kemampuan saya untuk menggunakan komputer pada saat itu bisa dikatakan ada nilai lebihnya dibanding yang lain, karena memang belum begitu banyak yang bisa menggunakan ditempat saya, akhirnya saya dapat ojekan untuk mengetik skripsinya. Yah lumayan dapat makan siang gratis walapun di ampera……

Ada perubahan sedikit tidak lagi makan di rumah kost melulu, walaupun memang dirumah tidak kalau enaknya dengan menu di ampera, tetapi suasananya pasti berbeda….. Internet membawaku tidak mengenal waktu untuk bermain…..

Artikel Sebelumnya :

  1. Habiskan saja GAJImu
  2. Private Bisnis Online tidak semahal konsultasi dengan dokter
  3. Private Bisnis Online tidak semahal konsultasi dengan dokter
  4. Akademi Berbagi Pekanbaru Kelas Perdana sudah dimulai
  5. Jadwal Kereta Api Kuala Namu Medan terbaru